SIARAN PERS
Istanbul, Turki, 9 April 2025 – Dari pasar tradisional di Nagari Limau Puruik, Padang Pariaman, Sumatera Barat, hingga tampil di panggung akademik internasional di Istanbul, Turki—perjalanan Ananda Putriani, mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi bukti nyata bahwa mimpi anak desa bisa menembus batas dunia.
Ananda, yang dulu membantu ibunya berjualan kerupuk jengkol di pasar, kini membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi. Ia tampil sebagai pemakalah dalam forum ilmiah internasional di Istanbul, Turki, dengan mempresentasikan penelitiannya berjudul “Revitalisasi Tradisi Tabuik melalui Film Eksperimental untuk Pengembangan Pembelajaran Bahasa Indonesia”.
Keikutsertaannya dalam konferensi tersebut didukung oleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), program kolaborasi antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Balai Pembiayaan Pendidikan Tinggi (BPPT) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), yang memberikan fasilitas bagi mahasiswa doktoral untuk menghadiri dua konferensi ilmiah internasional selama masa studi.
“Bagi saya, ini bukan sekadar menghadiri konferensi. Ini adalah bagian dari janji pada diri sendiri bahwa mimpi anak kampung pun bisa menjangkau panggung akademik global,” ujar Ananda usai sesi presentasinya.
Penelitian Ananda mengangkat tradisi Tabuik, warisan budaya tak benda dari Pariaman, Sumatera Barat, yang kaya akan nilai spiritual, sosial, dan estetika. Dengan pendekatan semiotika visual dan media film eksperimental, ia mentransformasi elemen budaya tersebut menjadi alat pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, kreatif, dan menyentuh aspek afektif peserta didik.
“Tradisi lokal seperti Tabuik bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk diinterpretasi kembali melalui media yang hidup dan kreatif. Film eksperimental memberi ruang bagi tafsir budaya yang lebih personal dan reflektif,” jelasnya.
Melalui risetnya, Ananda mengintegrasikan tiga pilar utama: budaya, seni visual, dan pedagogi bahasa, dalam sebuah model pembelajaran transformatif. Ia berharap pendekatan ini dapat menggeser paradigma pembelajaran Bahasa Indonesia dari sekadar penguasaan tata bahasa menjadi wahana pembentukan karakter dan kesadaran budaya.
Ananda menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada LPDP, BPPT, dan tim pembimbing di UPI yang mendukung perjalanannya secara akademik dan finansial. Ia juga mengapresiasi Dinas Pariwisata Kota Pariaman atas dukungan referensi budaya lokal yang memperkaya kajian ilmiahnya.
“Tanpa dukungan ini, langkah ini mungkin hanya akan tinggal angan. Saya bersyukur bisa membuktikan bahwa pendidikan benar-benar bisa mengubah nasib,” tuturnya penuh syukur.
Kisah Ananda Putriani bukan hanya kisah sukses akademik, tetapi juga simbol ketahanan, semangat belajar, dan keberanian mengubah realitas. Ia menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan untuk meraih mimpi.
UPI terus mendorong mahasiswa untuk unggul secara akademik sekaligus mengangkat kearifan lokal ke kancah global. Prestasi Ananda menjadi bukti bahwa pendidikan berkualitas dapat membawa anak bangsa dari pelosok Indonesia ke pentas dunia.
—
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kantor Humas dan Hubungan Alumni UPI
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Gedung University Center Lantai 6, Bandung
Email: [email protected] | Telp: +6285133332559
Tautan berita:
https://berita.upi.edu/dari-penjual-kerupuk-jengkol-ke-istanbul-mahasiswa-s3-universitas-pendidikan-indonesia-jadi-pemakalah-internasional/






