Biaya Produksi Petani Jadi Tantangan, UPI Kembangkan Bionut Berbasis Tumbuhan Tropis

Siaran Pers

Bandung, 2 September 2026 – Upaya menekan biaya produksi menjadi salah satu perhatian dalam kebijakan pertanian nasional. Pada 2026, pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sekitar 20 persen dan membenahi tata kelola penyalurannya untuk meningkatkan efisiensi serta akses petani terhadap pupuk.

Di tengah upaya tersebut, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan Bionut, inovasi berbasis tumbuhan tropis yang kini diterapkan bersama petani hortikultura di Sindangpalay, Desa Cugugur, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Penerapan ini menjadi bagian dari upaya membawa hasil riset perguruan tinggi ke lahan pertanian dan melihat manfaatnya dalam kondisi budidaya nyata.

Bionut dikembangkan sebagai produk berbasis hayati yang memanfaatkan ekstrak tumbuhan tropis. Produk tersebut digunakan sebagai bagian dari perlakuan tanaman dan telah diterapkan pada sejumlah komoditas hortikultura, antara lain cabai, tomat, buncis, selada, dan kailan.

Salah seorang petani pengguna Bionut, Iib, mengatakan penerapan produk tersebut memberikan perubahan pada pertumbuhan tanaman sekaligus berpengaruh terhadap biaya produksi. Berdasarkan pengalamannya setelah satu tahun menggunakan Bionut, biaya produksi dapat ditekan sampai 30 persen.

Biaya produksi bisa berkurang sekitar tiga puluh persen,” ujar Iib saat ditemui di lahan pertaniannya di Sindangpalay, Kamis (27/8/2026).

Menurut Iib, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penghematan tersebut adalah berkurangnya penggunaan pupuk kimia tertentu. Ia juga mengamati perubahan pada pertumbuhan tanaman, antara lain daun yang lebih lebar dan bobot tanaman yang lebih tinggi.

Membawa Riset ke Lahan Petani

Drs. Yaya Sonjaya, M.Si., inovator Bionut, mengatakan penerapan produk tersebut merupakan bagian dari upaya agar hasil penelitian perguruan tinggi tidak berhenti pada lingkungan akademik, tetapi dapat diuji dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tujuannya yang utama bagaimana petani bisa merasakan hasil riset, hasil inovasi dari perguruan tinggi agar mereka dapat memperoleh manfaatnya. Hasil-hasil riset perguruan tinggi jangan jadi menara gading, tetapi harus terasa oleh masyarakat luas,” kata Yaya.

Penerapan Bionut dilakukan secara bertahap. Setelah tahap awal dilakukan pada satu petani dan beberapa demplot, pengembangan berikutnya diperluas dengan melibatkan sekitar 10 petani untuk melihat penerapannya dari sisi produktivitas. Komoditas yang menjadi bagian dari pengujian mencakup cabai rawit, tomat, buncis, kailan, sawi, brokoli, dan selada.

Bagi tim peneliti, perluasan penerapan tersebut diperlukan untuk memperoleh data lapangan sekaligus melihat persoalan yang masih harus diselesaikan. Dengan demikian, proses hilirisasi tidak hanya menguji manfaat inovasi, tetapi juga memberikan masukan untuk pengembangan produk berikutnya.

Efisiensi Belum Menjadi Akhir Pengembangan

Prof. Dr. Hendrawan, M.Si., Ketua Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Guru Besar Departemen Pendidikan Kimia FPMIPA UPI, mengatakan hasil pengamatan menunjukkan potensi pada pertumbuhan vegetatif tanaman. Namun, persoalan hama dan penyakit masih menjadi tantangan yang perlu ditangani.

Kalau dari sisi vegetatif saya kira ini punya keunggulan yang luar biasa, cuma kita masih ada PR utamanya itu masalah hama dan penyakit,” ujar Hendrawan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti UPI bersama mahasiswa sedang mengembangkan formulasi biopestisida yang dapat dikombinasikan dengan Bionut. Saat ini terdapat lima seri percobaan yang masih dalam tahap penelitian dan direncanakan untuk diuji lebih luas setelah hasil penelitian siap.

Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan inovasi pertanian tidak berhenti pada temuan awal di lapangan. Data dari petani menjadi bagian dari proses evaluasi untuk melihat efektivitas, keterbatasan, serta kebutuhan pengembangan lebih lanjut.

Di sisi lain, Iib berharap pendampingan dari perguruan tinggi dapat terus dilakukan, tidak hanya dalam penggunaan inovasi, tetapi juga pada aspek teknik budidaya, manajemen pertanian, dan pemasaran hasil.

Bagi UPI, penerapan Bionut menjadi bagian dari upaya menghubungkan riset dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah agenda nasional untuk menekan biaya usaha tani, inovasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi mencoba mencari alternatif berbasis riset untuk meningkatkan efisiensi di tingkat petani, dengan pengujian dan pengembangan yang masih terus berlangsung.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kantor Komunikasi Informasi dan Pelayanan Publik
Universitas Pendidikan Indonesia

Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Gedung University Center lantai 6, Kampus UPI, Bandung.
Email: [email protected] | Telp: +6285133332559