Siaran Pers
Bandung, 19 Agustus 2026 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menanamkan budaya keberlanjutan sejak mahasiswa memasuki lingkungan kampus melalui gerakan satu mahasiswa baru, satu pohon. Sebanyak 13.860 mahasiswa baru UPI diajak berkontribusi melalui donasi bibit pohon yang akan digunakan untuk penghijauan kampus dan selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026. Dari kontribusi mahasiswa baru, UPI saat ini telah menghimpun sekitar 3.000 bibit pohon tanaman keras yang untuk sementara dirawat di sekitar gedung asrama sebelum ditanam pada musim hujan.
Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab universitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Penanaman pohon dipandang sebagai langkah nyata yang dapat dilakukan sivitas akademika untuk menjaga lingkungan sekaligus merespons persoalan pemanasan global.
“Kita berkewajiban mewariskan bumi yang lebih baik, mengurangi pemanasan global. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah menanam pohon,” ujar Prof. Didi.
Menurut Prof. Didi, penghijauan juga diperlukan karena masih terdapat sejumlah area di lingkungan UPI yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman. Meskipun kawasan kampus memiliki keterbatasan lahan, penambahan vegetasi secara bertahap diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sejuk dan nyaman bagi sivitas akademika.
“Kampus ini sempit, kemudian ternyata masih banyak lahan-lahan yang perlu ditanami oleh pohon-pohon sehingga nanti kampus makin sejuk, udaranya makin tidak lagi panas dan itu bisa menjadi sarana mahasiswa untuk bermain, kemudian juga kita mendapatkan oksigen.” katanya.
Selain memberikan manfaat bagi kenyamanan lingkungan kampus, penambahan pohon juga diharapkan mendukung keberadaan fauna. Prof. Didi menyebut penanaman pohon yang menghasilkan buah maupun yang tidak menghasilkan buah dapat memperkaya vegetasi sekaligus menyediakan ruang bagi fauna seperti burung.
Dari MOKAKU untuk keberlanjutan
Program satu mahasiswa baru satu pohon tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penghijauan di dalam kampus. Apabila kebutuhan penanaman di lingkungan UPI telah terpenuhi, bibit yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan bakti sosial berupa penanaman pohon.
UPI juga membuka kemungkinan mendistribusikan bibit kepada pihak yang membutuhkan, termasuk pemerintah daerah. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa baru dapat diperluas dari lingkungan kampus ke masyarakat.
Prof. Didi mengatakan gerakan serupa telah diupayakan selama tiga tahun. Pelaksanaan tahun 2026 menjadi yang paling berhasil dari sisi jumlah bibit yang terkumpul karena persiapan dilakukan lebih awal dan sosialisasi melibatkan mahasiswa baru serta mahasiswa senior yang menjadi panitia.
“Memang saya sudah tahun yang ketiga berusaha untuk melakukan hal yang seperti ini, tapi ini yang paling sukses. Karena direncanakan jauh-jauh hari, kemudian disosialisasikan dengan baik, bukan hanya kepada para mahasiswa baru, tetapi juga kepada kakak-kakak seniornya panitia.” ujarnya.
Ke depan, gerakan tersebut direncanakan kembali dilaksanakan. Bagi UPI, keberlanjutan program tidak hanya terletak pada jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan dan tanggung jawab lingkungan di kalangan sivitas akademika.
Penghijauan Terhubung dengan Riset UPI
Upaya penghijauan UPI juga berjalan berdampingan dengan kegiatan penelitian. Prof. Didi menyebut pupuk organik yang digunakan untuk mendukung perawatan tanaman berasal dari hasil penelitian sivitas akademika UPI melalui proses komposting.
Pupuk tersebut telah digunakan dan diuji untuk tanaman. Selain dimanfaatkan dalam penghijauan kampus, hasil penelitian tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Mudah-mudahan pupuk kita ini bisa membuat tanaman lebih subur, kemudian bisa dikomersilkan dalam bentuk dijual untuk masyarakat yang membutuhkan.” kata Prof. Didi.
Pengembangan riset tersebut juga dilakukan di lahan UPI di Bumi Sariwangi, yang dimanfaatkan untuk penanaman pohon sekaligus penelitian mengenai pupuk. Dengan demikian, agenda penghijauan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan aktivitas riset dan pengembangan inovasi universitas.
Gerakan satu mahasiswa satu pohon juga memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, terutama dalam menjaga ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati. Penambahan vegetasi di lingkungan kampus sekaligus menjadi langkah nyata untuk menciptakan ruang belajar yang lebih hijau, menjaga keberadaan fauna, serta meningkatkan kepedulian sivitas akademika terhadap lingkungan.
Melalui MOKAKU UPI 2026, kepedulian terhadap lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman awal mahasiswa dalam kehidupan perguruan tinggi. Gerakan tersebut diharapkan terus berkembang, tidak hanya melalui penanaman di lingkungan kampus, tetapi juga melalui pengabdian masyarakat dan pemanfaatan hasil riset UPI untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
—
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kantor Komunikasi Informasi dan Pelayanan Publik
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Gedung University Center lantai 6, Kampus UPI, Bandung.
Email: [email protected] | Telp: +6285133332559

