SIARAN PERS
Pegunungan Arfak, 10 Agustus 2025 – Di tengah hujan yang membasahi teras sekolah di Pegunungan Arfak, Papua, terjadi sesuatu yang luar biasa: matematika berubah menjadi tarian. Bukan tarian biasa, melainkan sebuah proses pembelajaran yang penuh kasih, kesabaran, dan personalisasi mendalam—sebuah wujud nyata dari prinsip Personalised Teaching and Learning menurut Williamson & Payton (2009) dalam buku Curriculum and Teaching Innovation.
Di luar ruang kelas formal, seorang trainer utama duduk bersama dua anak istimewa. Tidak ada papan tulis, tidak ada proyektor, hanya kertas lusuh bertuliskan satuan dan puluhan—alat peraga sederhana ala Metode Gasing (Gambar, Asosiasi, dan Simulasi). Namun, dari balik kesederhanaan itu, terbentang sebuah momen pendidikan yang transformatif.
Trainer itu mengajak anak berdiri. Mereka mulai bergerak pelan, seperti menari—langkah ke kanan, ke kiri, diiringi hitungan pelan: “Sembilan di kepala, dua di tangan…”. Tangan mereka saling berpegangan, mata bertatapan, hati terhubung. Setiap gerak adalah representasi angka, setiap ritme adalah pola matematis. Anak yang sebelumnya dianggap “tidak bisa berhitung” perlahan membuka diri. Ia mulai menunjuk kartu, menghitung, dan menemukan pola—dengan bantuan asosiasi pasangan sepuluh dan simulasi gerak tubuh.
Ini bukan sekadar strategi pedagogis. Ini adalah pembelajaran yang berakar pada relasi, empati, dan penghargaan terhadap keunikan tiap anak—inti dari personalisasi menurut Williamson & Payton. Dalam buku mereka, personalisasi bukan hanya soal metode, tapi tentang transformasi kelas menjadi ruang yang penuh kasih, di mana guru hadir sepenuhnya bagi siswanya.
Di kelas lain, seorang anak mendapat pendampingan khusus. Sang trainer menjelaskan kembali materi dengan suara lembut, gestur sabar, dan tatapan penuh perhatian. Di pojok yang berbeda, sekelompok anak duduk di lantai, bermain kartu buatan tangan dari kertas HVS. Mereka bersaing menyenangkan dalam permainan penjumlahan, sambil tertawa dan berteriak lantang. Guru pengimbas—peserta pelatihan—tampak lebih rileks, terstruktur, dan menikmati proses microteaching hari keempat.
Yang terjadi di Pegunungan Arfak bukan hanya pelatihan metode Gasing. Ini adalah pembentukan guru-guru baru yang tidak hanya mengajar, tapi juga mengasuh. Mereka belajar bahwa matematika bukan sekadar rumus, tapi bisa menjadi irama, gerak, dan dialog hati ke hati.
“Hari itu saya menyaksikan matematika turun dari buku ke tubuh, dari abstrak menjadi nyata, dari tugas menjadi tarian,” tulis seorang pengamat pelatihan. “Dan saya tahu, pelajaran ini tidak akan hanya tinggal di kepala anak-anak, tapi juga di hati mereka.”
Melalui Metode Gasing, FPEB UPI—dalam kemitraan dengan berbagai pihak—terus membuktikan bahwa pendidikan berkualitas bukan milik sekolah mewah atau kota besar. Di teras basah Pegunungan Arfak, di tengah hujan dan keterbatasan, pendidikan yang penuh kasih sedang tumbuh, satu langkah, satu hitungan, satu tarian demi satu tarian.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kantor HUMAS UPI
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Gedung Pusat UPI Lantai 6, Bandung
Email: [email protected] | Telp: +6285133332559
(https://berita.upi.edu/adegan-di-teras-pegaf-yang-hujan-sebuah-tarian-yang-menjadi-matematika/)






