SIARAN PERS
Bandung, 7 Maret 2025 – Permasalahan sampah di Indonesia, khususnya sampah organik yang menjadi penyumbang terbesar timbunan sampah nasional, terus menjadi tantangan besar. Dampaknya tidak hanya terbatas pada bau tak sedap dan penyebaran penyakit, tetapi juga memicu bencana lingkungan seperti kebakaran TPA akibat gas metana. Di berbagai negara maju, sampah telah diolah menjadi komoditas bernilai tinggi melalui konsep Zero Waste System.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Program Studi Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merancang Program MOMA (Monetisasi Maggot) sebagai solusi pengelolaan sampah organik berkelanjutan di tingkat kelurahan. Program ini mengintegrasikan edukasi, pelatihan, dan kewirausahaan untuk membangun usaha pengolahan sampah yang menguntungkan, melibatkan Tim SOUSE UPI yang digawangi mahasiswa fisika kreatif dan inovatif.
Ketua Laboratorium Geomekanika Tanah dan Batuan FPMIPA UPI, Dr. Selly Feranie, M.Si, menjelaskan bahwa Program MOMA terdiri dari tiga langkah utama:
1. Edukasi, Sosialisasi, dan Pelatihan Dasar – Membekali masyarakat dengan pemahaman dan keterampilan mengolah sampah organik serta membudidayakan maggot.
2. Implementasi Wirausaha Start-Up – Mengembangkan usaha berbasis produk turunan maggot, mulai dari tahap pre-seed hingga growth stage.
3. Pengelolaan Mandiri – Mendorong warga kelurahan untuk secara berkelanjutan mengelola produksi dan pemasaran produk green industry.
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup telah membangun Rumah Maggot di setiap kelurahan sejak awal 2024, namun sebagian besar belum mencapai target pengolahan 1 ton sampah organik per hari. Salah satu lokasi yang dinilai potensial adalah Rumah Maggot “Maggis” di Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, yang akan menjadi titik awal penerapan Program MOMA.
Program ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Bidang Teknologi dan Lingkungan Hidup LPPM UPI, Prof. Dr. Hj. Lilik Hasanah, M.Si, serta perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Dalam pertemuan pada Jumat (7/3), Ibu Syahriani, S.T., Kepala Seksi Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, menyatakan bahwa edukasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah organik.
“Peran kami sebagai peneliti adalah mengedukasi dan memberdayakan masyarakat melalui hasil riset dan inovasi yang telah kami kembangkan,” ungkap Prof. Lilik Hasanah. Sementara itu, Ketua Tim SOUSE UPI, Dimars Dwi Daniarta, menambahkan bahwa produk turunan maggot yang dikembangkan menggunakan teknologi sederhana dan strategi pemasaran easy user diharapkan dapat menarik minat generasi milenial untuk terjun di bidang green industry.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kantor HUMAS UPI
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Gedung University Center lantai 6, Kampus UPI, Bandung.
Email: [email protected] | Telp: +6285133332559
https://berita.upi.edu/upi-kembangkan-program-monetisasi-magot-sebagai-alternatif-pengolahan-sampah-profit-dan-berkelanjutan-tingkat-kelurahan/






